HOMO DAN LESBI

Posted: May 18, 2011 in SEKSUALITAS

SUKA SEJENIS ?
AMIT-AMIT DEHHH !
Bahasan kali mungkin nggak menarik bagi kamu-kamu yang merasa normal. Maksudnya normal karena enggak bakal ada bibit-bibit untuk suka sejenis. Kalau cewek ya suka sama cewek, kalau cowok demen sama cowok. Demen dan suka disini bukan sekedar untuk berteeman, tapi sudah menjurus kehubungan khusus alias mengarah kehubungan seksual. Hiiii……..
Jangan kaget ! fenomena seperti ini memang belum umum terjadi disekitar kita. Tapi bukan berarti kejadian ini enggak nyata. Secara sekilas, kelainan suka sejenis memang enggak mudah terlhat. Jadi, seringnya kita merasa aman-aman saja dan merasa : “ah…enggak mungkin itu terjadi di aku or temen-temenku.” Hati-hati, loh !
Jangan salah. Sesuatu yang enggak mungkin bisa berubah menjadi mungkin kalau kia enggak waspada. Masalahnya ‘penyakit’ beginian bersifat laten, bias muncu sewaktu-waktu bergantung situasi an konisi yang menyertai.

KENALI GEJALANYA
Mengenali gejala penyakit suka sejenis emang enggak mudah. Karena awalnya emang bermula ari perasaan yang kemudian berimbas ketingkah laku. Biasanya ‘si penyakitan’ akan menyimpannya cukup dalam hati saja. Secara fisik, mungkin ia enggak beda dengan anak lainnya. Enggak harus karena fisiknya terlihat tomboy, terus kamu main curiga saja jangan-jangan ia lesbi. Begitu juga buat cowok, enggak perlu kudu lemah gemulai untuk menjadi homo. Kamu tahu grup band boyzone yang sempat tenar beberapa tahun lalu ? nah, salah satu cowok macho itu homo loh.
Jaddi lesbi dan homo memang enggak biaas dideteksi dari penampilan. Biasanya pada tataran awal, gejala ketidaknormalan ini akan membuat pelakunya suka gelisah. Biasalah, kayak gejala orang kalau poling in lop gitu, Cuma bedanya ini dengan sesama jenis. So, hat-hati dengan teman yang suka meraba-raba,misalnya. Atau memandang dengan pandangan yang mupeng (muka pengen) dicampur nafsu.
Lagi, gejala diatas tidak mutlak harus ada pada seorang yang berpenyakit homo atau lesbi. Yang pentng, kamu bersikap waspada dan hati-hati bila ada teman yang tingkah lakunya mulai membuat resah teman yang lain. Suka intip-intip teman yang lagi ganti baju,misalnya
PENYEBAB SUKA SEJENIS.
Penyebab penyakit ini bisa bermacam-macam. Ada yang karena dikecewakan pacar, trus jadi trauma dengan lawan jenis. Ada juga yang karena broken home. Saya dulu punya teman yang sering banget melihat bapaknya memukul fisik baik ibu maupun anak-anaknya, termasuk teman saya ini. Terus ia juga sering banget liat cowok-cowok urakan yang gampang banget mempermainkan cewek. Ia pernah bilang kalau ia jadi illfeel sama yang namanya makhluk yang berjenis cowok. Untungnya doi belum parah. Alhamdulillah akhirnya ia rajin belajar islam, berjilbab, dan menikah.
Salah asuh juga bisa menjadi biang keladi penyakit suka sejenis ini. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang kering kasih saying dan dibeda-bedakan antara anak laki dan perempuan, bisa jadi pemicunya. Diperparah dengan jauhnya suasana keimanan dalam keluarga makin membuat anak semakin ‘sakit’.
Kondisi linkungan juga punya andil besar dalam menyuburkan penyakit ini. Tayangan sinetron dan film layar lebar banyak diproduksi seputar tema suka sejenis. Ambil contoh, Cornelia Agatha dan shanty difilmnya juga berkisah tentang gadis lesbi ini.
Sobat, yang paling parah adalah lesbi dan homo yang tidak merasa bahwa mereka ini sedang sakit. Berdalih atas nama Hak Asasi Manusia dengan kebebasan berekspresinya, mereka merasa sah-sah saja untuk menjalani hidup sebagai ‘penyakitan’. Toh, perbuatan itu tidak merugikan siapa-siapa, sellu itu ynag menjadi alas an pembenaran untuk kerusakan yang mereka perbuat.
Sejatinya, ide inilah yang jadi biang kerok kompleksnya permasalahan yang ada. Ibarat benang kussut, enggak ketahuan ujung pangkalnya untuk mengurainya. Ide HAM ynag merupakan anak kandung demokrasi inilah yang menjadikan fenomena suka sejenis begitu merebak.
Kehidupan yang ‘berakidah’ sekularisme alias memisahkan agama dari kehidupan menjadi ide yang diadopsi bersama-sama. Orang tak lagi takut dosa melakukan hal yang melanggar perintah agama. Sekadar ditakut-takuti sama yang namanya dosa, enggak bakalan mempan. Dosa kan enggak kelihatan. Dosa kan nanti saja urusannya diakhirat. Ihh…enggak beriman banget dalih seperti ini.
SOLUSI DONG..!
Harus ada solusi bagi semua permasalahan kehidupan. Kalau suatu system yang berlaku dalam masyarakat enggak punya solusinya, buang kelaut saja tuh system dan ganti dengan yang baru. Membiarkan fenomena lesbi dan homo dengan alasan HAM dan kebebasan bertingkah laku bukan solusi, tapi bom waktu. Tinggal menunggu saja leakan dahsyatnya yang akan menghancurkan bumi seisinya.
Ditataran awal, ketiga komponen solusi harus ada. Apakah itu ? control diri dengan keimanan yang kuat pada individu-individunya. Kedua, control masyarakat yang tak segan untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar bila melihat gejala penyimpangan perilaku pada pelaku lesbi dan homo. Bukan malah sok enggak mau tahu karena sudah terjangkitnya masyarakat oleh penyakit individualisme. Dan yang ketiga serta paling menentukan posisinya adalah control Negara. Negara enggak bisa menutup mata bahwa fenomena lesbi dan homo sudah ada ditengah masyarakat kita.
Bukan zamannya lagi Negara melalui perantara DPR yang sok mengaku sebagai wakil rakyat melakukan rapat dan Cuma rapat untuk menentukan rumus baru tentang definisi suatu kejahatan dan hukumannya. Kelamaan, booo. Hokum Indonesia yang digali dari hokum belanda itu notabene buatan manusia dan enggak akan mungkin bisa menjangkau kesempurnaan hokum buatan sang pencipta. So, waktunya kita menoleh an mengambil system hukum Yang Maha Sempurna. Solusi tuntas atas semua permasalahan kehidupan tanpa menimbulkan masalah barru.
Harus ada solusi hukum yang praktis bagi mereka yang masih Bengal, hobi lesbi dan homo. Solusi hukum yang akan membuat mereka jera. Bukan solusi hukum yang bisa dijadikan tawar-menawar rupiah. Allah SWT. Dan rasulnya telah menetapkan hukum bunuh bagi pelaku homo seksual. Rasulullah SAW. Bersabda, : “barang siapa menjumpai orang yang berbuat homoseks seperti praktik kaum luth, bunuhlah sipelaku dan yang diperlakukan atau (pasangannya).”(H.R Bukhari muslim,at-Tirmidzi,abu dawud dan an-nasa’i).
Ide ini jelas janggal banget untuk orang yang sudah terasuki ide kebebasan bertingkah laku. Wong suka sama suka kok dibunuh. Jangankan sesame jenis yang sulit pembuktiannya, seks bebas antar lawan jenis yang jelas-jelas ada bukti hamil tanpa suami saja masih bisa dilindungi oleh Negara dan adat. Dengan cara apa ? yuk, dicarikan ‘pejantan’ untuk melindungi aib keluarga. Jadilh lingkaran setan, anak-anaak lahir dengan nasab yang amburadul, anak-anak nakal karena berasal dari keluarga yang broken home dan penyakit demi penyakit ‘aneh’ muncul sebagai peringatan terhadap pembangkangan manusia ini.
Kembali kebahasan suka sejenis. Kalau ada temanmu yang sudah terlanjur kena penyakit lesbi dan homo ini, segera ingatkan ia untuk segera taubatan nasuha. Tobat yang sebenar-benarnya dan tidak akan pernah diulangi lagi. Saya yakin, tingkat penyakit ini bila menjangkiti orang yang masih percaya keberadaan Allah dan hari akhir, ada harapan untuk bisa disembuhkan. Levelnya juga belum menjurus kehubungan seksual, semoga. Paling masih taraf getaran rasa bila berdekatan dengan orang tertentu, sesame jenis yang lagi disuka.
Jangan member solusi yang aneh dan mengakibatkan masalah baru. Biasanya solusi aneh yang diberikan adalah dikenalkan dengan lawan jenis dan didorong untuk pacaran. Walah, ini namanya menyembuhkan penyakit dengan mengundang penyakit baru. Menghindar dari mulut harimau malah lari kemulut buaya. Sama-sama bahaya dan binasanya, non.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s