NARKOBA OR NAPZA……??? APA SiiiiiiH iTuUuU,,,,,,,.?!

Posted: May 18, 2011 in NAPZA

1.    PENGERTIAN NAPZA
Napza (narkotika, akohol, psikotoprika, zat adiktif lainnya) zat kimiawi yang dimsukkan kedalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung). Kata lain yang sering dipakai adalah narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan-bahan berbahaya lainnya).
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan kedalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang ini atau yang kemudian ditetapkan dengan keputusan menteri kesehatan.
2.    PENYALAHGUNAAN NAPZA
a.    Pengertian penyalahgunaan napza
NAPZA pada mulanya ditemukan dan dikembangkan untuk pengobatan dan penelitian. Tujuannya adalah untuk kebaikan manusia. Namun berbagai jenis obat tersebut kemudian disalahgunakan untuk mencari kenikmatan sementara atau mengatasi persoalan sementara.
Penyalahgunaan NAPZA adalah pemakaian NAPZA yang bukan untuk tujuan pengobatan atau yang digunakan tanpa mengikuti aturan atau pengawasan dokter. Digunakan secara berkali-kali atau terus-menerus.
Penyalahgunaan NAPZA menyebabkan ketagihan/kecanduan atau ketergantungan baik fisik/jasmani maupun mental emosional. Bahkan menimbulkan gangguan fisik mental emosional dan fungsi sosial. Biasanya penyalahgunaan menghasilkan akibat yang serius, dan dalam beberapa kasus, bisa fatal atau mengakibatkan kematian dan tentunya kerugian sosial dan ekonomi yang luar biasa.
b.    Tahapan Penggguna
Karena bermula dari rasa ingin tahu, senang-senang/hura-hura, pemakai sering kali pada awalnya berpikiran bahwa kalau hanya mencoba-coba saja tidak mungkin kecanduan atau ketagihan. Kenyataannya, walaupun hanya coba-coba (experimental user) derajat pemakaian tanpa disadari akan meningkat (intensive user) dan pada akhirnya akan menjadi sangat tergantung pada obat tersebut (compulsary user).
Tahap pemakai narkoba dapat dibedakan dalam
    Pemakai coba-coba
Biasanya untuk memenuhi rasa ingin tahu atau agar diakui oleh kelompoknya.
    Pemakai sosial/rekreasi
Biasanya untuk bersenag-senang. Pada saat rekreasi atau santai. Umumnya dilakukan oleh kelompok.
    Pemakai situasional
Biasanya untuk menghilangkan rasa ketegangan, kesedihan, atau kekecewaan.
    Pemakai ketergantungan
Biasanya sudah tidak dapat melalui hari tanpa mengkonsumsi NAPZA.

c.    Faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan NAPZA
a)    Internal
Individu yang paling berperan menentukan apakah ia akan atau tidak akan menjadi penggguna NAPZA. Keputusannya dipengaruhi oleh dorongan dari dalam maupun luar dirinya.
Dorongan dari dalam biasanya menyangkut kepribadian dan kondisi kejiwaan seseorang yang membuatnya mampu atau tidak mampu melindungi dirinya dari penyalahgunaan NAPZA. Dorongan dari dalam atau motivasi tersebut merupakan predisposisi untuk menggunakan obat, misalnya ingin mencoba-coba, pendapat bahwa NAPZA dapat menyelesaikan masalahnya, dan seterusnya. Hal lain adalah adanya masalah pribadi, seperti stres, tidak percaya diri, takut, ketidakmampuan mengendalikan diri, serta tekanan mental dan psikologis menghadapi berbagai persoalan.
Kepribadian tidak begitu saja terbentuk dari dalam individu melainkan juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam sejak kecil dalam keluarga (enkulturasi) dan sosialisasi baik dari keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Kemampuan membentuk konsep diri (self concept), sostem nilai yang teguh sejak kecil dan kestabilan emosi, merupakan beberapa ciri kepribadian yang bisa membantu seseorang untuk tidak mudah terpengaruh atau terdorong untuk menggunakan NAPZA.
    Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau berpikir panjang mengenai akibatnya.
    Keinginan untuk mencoba-coba karena “penasaran”.
    Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun).
    Keinginan untuk mengikuti trend atau gaya (fashionable).
    Keinginan untuk diterima oleh lingkungan atau kelompok (konformitas).
    Lari dari kebosanan, masalah atas kegetiran hidup.
    Adanya pemahaman yang salah bahwa penggunaan sekali-sekali tidak akan menimbulkan ketagihan.
    Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok pergaulan untuk menggunakan NAPZA.
    Tidak dapat berkata TIDAK terhadap NAPZA.
b)    Eksternal
Faktor eksternal adalah masyarakat dan lingkungan sekitar yang tidak mampu mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan NAPZA. Bahkan membuka “kesempatan” pemakaian NAPZA.
Yang dimaksud denngan faktor “kesempatan” adalah adanya situasi-situasi “permisif” (memungkinkan) untuk memakai NAPZA diwaktu luang, ditempat rekreasi seperti didiskotik dan pesta.
Lingkungan pergaulan dan lingkungan sebaya merupakan salah satu pendorong kuat untuk menggunakan NAPZA. Keinginan untuk menganut nilai-nilai yang sama dalam kelompok (konformitas) diakui (solidaritas), dan tidak dapat menolak tekanan kelompok (peerpressure) merupakan hal-hal yang mendorong penggunaan NAPZA.
Dorongan dari luar adalah ajakan. Rayuan, tekanan dan paksaan terhadap individu untuk memakai NAPZA. Sementara individu tidak dapat menolaknya.
Dorongan luar juga bisa disebabkan pengaruh media massa yang memperlihatkan gaya hidup dan berbagai rangsangan lain yang secara langsung maupun tidak langsung mendorong pemakaian NAPZA.
Dilain pihak, masyarakat tidak mampu mengendalikan bahkan membiarkan penjualan dan pengedaran NAPZA, misalnya karena lemahnya penegakkan hukum, penjualan obat-obatan secara bebas, bisnis narkotika yang terorganisir dan keuntungan yang menggiurkan.
NAPZA semakin mudah diperoleh dimana-mana dengan harga terjangkau. Berbagai kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan NAPZA, memudahkan terjadinya penggunaan dan penyalahgunaan NAPZA.
c)    Kandungan zat dalam NAPZA
Ketika seseorang sudah terbiasa menggunakan NAPZA, maka secara fisik dan psikologis (sugesti) orang tersebut tidak dapat lagi hidup normal tanpa ada zat-zat NAPZA didalam tubuhnya.
Apabila zat-zat NAPZA tidak berada lagi dalam tubuh penyalahgunaan NAPZA. Secara  fisik ia akan merasa kesakitan dan sangat tidak nyaman. Kesakitan dan penderitaanya hanya akan berhenti ketika zat-zat tersebut kembali berada dalam tubuhnya.
Secara psikologis, ia membutuhkan rasa nikmat yang biasa ia rasakan ketika zat-zat tersebut bereaksi dalam tubuhnya dalam bentuk perubahan perasaan dan fikiran. Ketika kenikmatan tidak ada, pikiran dan perasaannya hanya terfokus pada kebutuhan tersebut .
Pikiran dan perasaannya kembali tenang ketika zat tersebut kembali ada didalam tubuhnya. Zat-zat yang memberikan “kenikmatan” bagi pemakainya mendorong terjadinya pemakaian berulang, pemakaian berkepanjangan, dan ketergantungan kerena peningkatan dosis pemakaian yang terus bertambah. Lingkaran setan yang seperti inilah yang menyebabkan ketergantungan.
d)    Dampak penyalahgunaan
1)    Fisik
Efek NAPZA bagi tubuh tergantung pada jenis NAPZA, jumlah atau dosis, frekuensi pemakaian, cara menggunakan (apakah digunakan bersamaan dengan obat lain), faktor psikologis (kepribadian, dan harapan saat memakai), dan faktor biologis (berat badan, dan kecenderungan alergi).
Secara fisik organ tubuh yang paling banyak dipengaruhi adalah sistem saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Organ–organ otonom(jantung, paru-paru hati dan ginjal) dan panca indera (karena yang dipengaruhi adalah susunan saraf pusat). Pada dasarnya penyalahgunaan NAPZA akan mengakibatkan komplikasi pada seluruh organ tubuh hingga adanya gangguan bahkan kematian seperti :
a.Gangguan pada system saraf (neorologis). Seperti kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
b.Gangguan paa jantung dan pembuluh darah (kariovaskuler). Seperti infeksi akut otot jantung dan gangguan peredaran darah.
c. Gangguan pada kulit (dermatologis). Seperti adanya nanah, bekas suntikan atau sayatan, dan alergi.
d. Gangguan pada paru-paru, seperti kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru, an pengumpulan benda asing yang terhirup.
e. Gangguan pada darah, pembentukan sel darah terganggu.
f. Gangguan pencernaan (gastrointestinal). Mencret, radang lambung dan kelenjar ludah perut, hepatitis, perlemakan hati dan pengecilan hati.
g. Gangguan system reproduksi, seperti gangguan fungsi seksual sampai kemandulan, gangguan fungsi reproduksi, ketidakteraturran menstruasi, serta cacat bawaan pada janin ynag dikandung.
h. Gangguan pada otot dan tulang, seperti peradangan otot akut, penurunan fungsi otot (akibat alcohol).
i. Terinfeksi virus hepatitis B dan C, serta HIV, akibat pemakaian jarum suntik bersama-sama dengan salah satu penderita. Saat ini terbukti salah satu sebab utama penyebaran HIV yang pesat, terjadi melalui pertukaran jarum suntik ikalangan pengguna NAPZA suntik (Injecting Drug Users=IDU).
j. Kematian sudah terlalu banyak terjadi akibat pemakaian NAPZA. Terutama karena pemakaian berlebih (Over Dosis=OD) dan kematian karena AIDS serta penyakit lainnya.

2)    Psikologis
a.    Ketergantungan fisik dan psikologis kadangkala sulit dibedakan. Karena pada akhirnya ketergantungan psikologis lebih mempengaruhi.
b.    Ketergantungan pada NAPZA menyebabkan orang tidak dapat berfikir dan berprilaku normal. Perasaan, pikiran dan perilakunya dipengaruhi oleh zat yang dipakainya.
c.    Berbagai gangguan psikis atu kejiwaan yang sering dialami oleh mereka yang menyalahgunakan NAPZA antara lain adalah depresi, paranoid, percobaan bunuh diri, melaakukan tibak kekerasan, dan lain-lain.
d.    Gangguan jiwa ini bias bersifat sementara tetapi bias juga permanen karena kadar ketergantungan pada NAPZA ynag semakin tinggi.
e.    Gangguan psikoologis paling nyata ketika pengguna berada pada tahap compulsive yang berkeinginan sangat kuat dan hamper tidak bias mengendalikan dorongan untuk menggunkan NAPZA. Dorongan psikologis untuk memakai dan memakai ulang ini sangat nyata padda pemakai yang sudah kecanduan.
f.    Banyak pengguna sudah mempunyai masalah psikologis sebelum memakai NAPZA dan penyalahgunaan NAPZA menjadi pelarian atau usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut.
g.    NAPZA tertentu justru memperkuat perasaan depresi pada pengguna tertentu. Demikian pula ketika mereka gagal untuk berhenti. Depresi akan juga dialami karena sikap dan perlakuan negative masyarakat terhadap para pengguna NAPZA.
h.    Gejala-gejala psikologis yang biasa dialami para pengguna NAPZA antara lain :
    Keracunan (intoksikasi)
Adalah suatu keadaan ketika zat-zat yang sudah digunakan sudah mulai meracuni darah pemakai dan mempengaruhi perilaku pemakai, misalnya tidak lagi bias berbicara normal, berpikir lambat, dan lain-lain. Perilaku orang mabuk adalah salah satu bentuk intoksikasi NAPZA.
    Peningkatan dosis (toleransi)
Yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang membutuhkan jumlah zat yang lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama setelah pemakaian berulang kali dalam jangka waktu lama, jumlah atau dosis yang digunakan akan meningkat. Toleransi akan hilang jika gejala putus  obat hilang.
    Gejala putus obat (“withdrawal syndrome”)
Adalah keadaan dimana pemakai mengalami berbagai gangguan fisik dan psikis karena tiak memperoleh zat yang biasa dipakai. Gejala antara lain gelisah, berkeringat, kesakitan, dan mual-mual. Gejala putus obat menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan zat atau bahan ynag biasa dipakai. Gejala putus obat akan hilang ketika kebutuhan akan zat dipenuhi kembali atau bila pemakai suah terbebas sama sekali dan ketergantungan pada zat obat terrtentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s